Berkawan dengan Orang Tua



Peran anak bisa dibagi ke dalam tiga fase
  • pada fase pertama yaitu usia bayi sampai masa kanak-kanak, anak berperan seperti raja orang tua yang melayani semua kebutuhannya.


  • pada fase kedua yaitu usia anak-anak sampai menjelang remaja anak-anak berperan seperti pembantu, anak harus membantu berbagai pekerjaan orang tua seperti pekerjaan di rumah atau pergi ke warung.
  • pada fase ketiga yaitu usia remaja sampai dewasa anak berperan sebagai sahabat orang tua dan anak bisa saling berbagi saling memberi dan meminta masukan serta berdiskusi ketika mau mengambil keputusan.
Nah sekarang kita sudah masuk ke fase ketiga, yaitu kita berperan menjadi sahabat orang tua kita.

Anak Versus OrangTua
kita tidak mungkin ada di dunia ini kalau tidak ada orang tua.
kita memiliki kebergantungan yang sangat kuat kepada mereka bahkan hubungan itu tidak akan lepas sampai di akhirat nanti oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang tua kita. 
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu Jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam peliharaanmu maka sesekali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan: yang mulia, dan rendahkanlah Dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Tuhanku, Kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Q.S. Al-Isra [17]:23-24).
Seiring berjalannya waktu, terkadang terjadi permasalahan dalam hubungan kita dengan orang tua. permasalahan itu bisa timbul karena salah paham atau karena keegoisan masing-masing, atau bisa juga karena kita kurang paham dengan agama.
Maka, tidak jarang didapati orang tua yang menjadi musuh bagi anak-anaknya atau sebaliknya.
Terkadang kita berani membentak orang tua atau bahkan memukul mereka. Mungkin tidak sampai membentak atau memukul, tetapi seringkali perkataan dan sikap kita menyakiti mereka seperti ungkapan:
"Ah, Mama mah ndak bisa ngertiin anak muda!"; "Papa main larang, kayak ndak pernah muda aja"; "Mama/Papa kuno, nggak ngerti mode!"...

cinta keluarga
Berdasarkan hasil wawancara dengan para orangtua, banyak yang merasa sakit hati karena perkataan-perkataan seperti di atas. Ya, mereka tak suka di bilang kuno. Mereka banyak melakukan tindakan preventif (pencegahan) pada anaknya,  sebab mereka sudah tahu akibatnya. Tapi, yang nama nya remaja selalu ingin mencoba. Nah, kalau sang anak sudah tidak ada koneksi (jalin) dengan orangtua, biasanya mereka mencari teman di luar yang bisa mendukung keinginannya. Betul tidak ?? Dia bisa bernama teman ataupun pacar. Dan kebanyakan remaja lebih percaya curhat kepada teman dekatnya dibandingkan kepada orangtua.

Solusinya bagaimana??...
 
Pertama, orangtuanya. Ketika anak memasuki usia remaja, yang biasanya ingin mencoba hal-hal baru, berikan mereka sedikit kebebasan untuk mencoba hal baru itu. Namun, tetap harus diawasi dan jangan terlalu dekat. Tanyakan juga apa saja aktivitas nya. Perhatikan pula dengan siapa dia bergaul. Bagaimanapun juga, seorang remaja juga ingin terus diperhatikan.

Nah, kalau anak sudah mulai menunjukan sinyal-sinyal negatif, baru dekati dia lebih intensif. Tanya masalahnya sampai dia ingin curhat. Kalau sudah terbuka, dia tidak akan mencari perhatian di luar.


Dia akan tetap kembali kepada orang tuanya. 
Kenapa? menurut para remaja, mereka berpacaran atau ngedrugs adalah karena mereka tidak mendapat perhatian dari orang tuanya di rumah. Hal yang perlu dicatat adalah anak-anak tidak akan mencari orang tuanya ketika menghadapi masalah jika tidak ada kedekatan emosi yang kuat. jadi hal yang terpenting dari hubungan anak dengan orang tua adalah menjaga hubungan emosi. anak-anak dan juga remaja tetap butuh perhatian.

Di sisi lain, jika gaya perhatian orang tua terlalu interogatif akan membuat anak tidak nyaman. Anak malah ingin menjauh. Zaman sekarang ada cara yang efektif untuk memperhatikan anak kita yaitu menengok status-statusnya di sosial media (Misalnya Facebook atau Twitter). Biasanya anak muda selalu menuliskan perasaannya di sana. Orangtua tidak harus lantas mengomentari atau mengintegrasi nya secara langsung di dunia maya. Orang tua cukup mengintipnya saja untuk mengetahui apa yang sedang dialami atau dirasakan anaknya sekarang. Selanjutnya orang tua bisa menjadikan hal tersebut sebagai bahan intropeksi dalam mendidik anak-anaknya.

Pada masa sekarang, anak membutuhkan orang tua tidak hanya sebagai guru, melainkan juga teman. Namun, anak tetapi tidak boleh bersikap seenaknya dengan orang tua, bagaimanapun juga mereka adalah ayah dan ibu ibu kita yang harus dihormati dan dimuliakan...

No comments