Apa arti Nilai Akademis di jaman sekarang?

ads


Sistem pembelajaran yang ada saat ini telah mengubah tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan itu sendiri. pengetahuan atau ilmu tidak lagi menjadi tujuan utama dari proses pembelajaran Karena semua itu tidak akan berarti kalau tidak ada nilai secara membina di atas kertas.

Seseorang dikatakan lulus atau selesai menempuh studi apabila ia telah memiliki nilai mata pelajaran yang disajikan dalam kurikulum. Seseorang dikatakan sukses manakala nilai yang tertera dalam ijazah menunjukkan angka yang sempurna. Seseorang belum bisa lulus apabila nilai belum terpenuhi semua seseorang tidak dikatakan sukses manakala nilai yang diraih dari proses pembelajaran itu kecil.


Akhirnya pendidikan kita terjebak pada nilai kita jadian lagi sibuk mengejar nilai tapi padat pengetahuan itu sendiri. Saya sering menang pertanyaan yang terlontarkan dari para mahasiswa dan dosen: " Pak nilai saya sudah keluar atau belum?"; "Braderr, nilai Kamu udah keluar belum? berapa nilainya?" Sebaliknya, jarang saya mendengar pertanyaan: "sejauh mana pengetahuan kamu soal masalah ini dan masalah itu?"..

NILAI DAN PERSAINGAN


Di era globalisasi ini, manusia dituntut untuk bisa bersaing. Orang yang mempunyai gelar tinggi akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan dan memenangi persaingan. Namun, untuk mendapat gelar tersebut tidak bisa di raih begitu saja. Seseorang harus mengikuti jenjang formal tertentu agar bisa mendapatkan gelar. Masalahnya, tidak semua orang berkesempatan mengikuti jenjang formal, walawpun ia memiliki kecerdasan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, tetapi yang paling mendasar adalah ekonomi dan kesadaran masyarakat.

Untuk mendapatkan gelar, seseorang harus memenuhi point persyaratan tertentu. Sebenarnya, kita tidak perlu risau terjebak dengan masalah gelar. Banyak tokoh dunia dan ilmuwan yang tidak mendapatkan gelar dari sekolah atau universitas mana pun, tetapi mereka sukses di bidangnya. Justru setelah banyak lulusan pendidikan formal, kini kita sulit menemukan ilmuwan - ilmuwan yang handal.

STANDAR NILAI VERSUS KREATIVITAS


Dalam sistem pendidikan kita, nilai seolah menjadi segala-galanya. Yang menentukan siswa masuk jurusan IPA atau IPS adalah dengan melihat nilai apabila nilai mata pelajaran IPA memenuhi standar IPA maka ia masuk ke jurusan IPA meskipun ternyata ia lebih meminati IPS. Akibatnya yang masuk ke jurusan IPS adalah sisa dari siswa yang tidak lolos seleksi nilai IPA. Tentu hal ini merupakan diskriminasi dari guru tanpa memperhatikan minat dan bakat siswa. Sebab, nilai tidak mutlak menjamin ketertarikan siswa pada salah satu jurusan itu.

Sistem pendidikan di Indonesia yang terjebak pada masalah nilai menyebabkan siswa terjebak pada cara mereka belajar. Mereka akan memaksakan diri dengan cara apapun untuk mendapatkan nilai yang tinggi, dengan menyontek, misalnya. Sistem yang terpaku pada nilai, akhirnya tidak akan memperhatikan minat dan bakat siswa.


Nah, adapun IMBAS MENGIKUTI STANDAR NILAI


Sistem pendidikan yang belum bisa beradaptasi pada nilai menuntut para siswa untuk mau menerima semua pelajaran agar terpenuhi standar nilai meski ada sebagian pelajaran yang tidak diminati. Hal ini menyebabkan muncul nya beberapa permasalahan, di antara nya:

1. KEBIASAAN MENYONTEK

Sepertinya, yang nama nya menyontek sudah tidak asing bagi bangsa ini dan sudah menjadi budaya bagi kalangan pelajar. Ketika ada tes, hampir di setiap sekolah selalu ada kasus menyontek. Berbagai media dan cara digunakan mulai dari cara open book, catatan kecil, tengok kanan dan kiri depan dan belakang, menggunakan SMS ( handphone ), atau dengan mencari bocoran lembar jawaban.

Segala sesuatu harus lah berusaha.

Munculnya kebiasaan menyontek tak lain adalah karena siswa kurang meminati pelajaran yang bersangkutan. Sehingga, ketika guru menerangkan, ia tidak benar-benar memperhatikan. Pada gilirannya, ketika ujian ia tidak bisa menjawab soal pelajaran tersebut. Karenanya, untuk memenuhi standar nilai, siswa memilih untuk menyontek. Tak peduli paham atau tidak pada mata pelajaran tersebut.

2. PENGANGGURAN

Hidup di zaman sekarang ini jumlah pengangguran semakin meningkat sehingga banyak potensi SDM yang tersia-siakan. Standar nilai telah mengekang kebebasan seseorang. Bagi yang tak mempunyai gelar karena tak mampu kesempatan mengenyam pendidikan formal, akan sulit mencari posisi dalam pekerjaan. Tak hanya itu, mereka yang pernah mengenyam pendidikan formal sampai sarjana banyak yang menganggur.


Kenapa? Sebab, banyak yang lulus sekolah atau kuliah hanya mementingkan terpenuhinya standar nilai. Akhirnya, life skill ( kemampuan hidupnya ) lemah karena selama masa studi tidak pernah di asah dan dikembangkan.

3. MINIMNYA ILMUAN 

Sisitem pendidikan di indonesia yang berorientasi pada nilai, menuntut semua siswa untuk mempelajari semua pelajaran yang ada meski ternyata tidak semua siswa menyukainya. Seseorang dituntut untuk pelajaran yang belum tentu bermanfaat baginya.

Einstain
Akhirnya, ia hanya membuang-buang waktu saja dan mengurangi kesempatan untuk mempelajari mata pelajaran yang diminatinya. Sistem seperti ini menyulitkan seseorang untuk mempelajari sesuatu yang diminatinya secara khusus. Pada gilirannya, sulit ditemukan ilmuan-ilmuan baru di indonesia.


4. KENAKALAN REMAJA

Dalam sebuah survei yang dilakukan secara acak ke SMP-SMA di Kab. Lebak, ketika di tanyakan alasan mengapa mereka melakukan tawuran dan mabal ( bolos setengah hari ), mereka menjawab, " Kami bosan belajar di kelas. Kami ingin mencari kesenangan di luar kelas." Yang lain menjawab, "Saya tidak menyukai pelajaran ini, maka saya memilih di luar saja."

Kenakalan Remaja
Jika siswa dipaksa, maka tak heran jika fakta di atas mencuat. Dan jika siswa diberi kebebasan dalam memilih pelajaran, maka ia akan mengikuti pelajaran yang ia inginkan tanpa harus terpaksa membolos. Yang dimaksud kebebasan disini bukan dalam arti bebas, boleh melakukan seenaknya, tetapi guru tetap berusaha mengarahkan siswa pada mata pelajaran yang diminatinya sesuai dengan minat siswa.

Apa arti Nilai Akademis di jaman sekarang? Apa arti Nilai Akademis di jaman sekarang? Reviewed by A Fawaz on 07:21:00 Rating: 5
Powered by Blogger.