Islam tidak mengajarkan kekerasan sedikitpun kepada umat - umat nya!

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa itu Islam Sunni? kok islam selalu agresif di negara - negara yang mayoritas islam? Apakah itu agama islam yang sebenarnya?...
Islam membawa perdamaian untuk dunia
Islam Sunni adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.
Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.
Sekedar pengetahuan adapun tokoh - tokoh yang mengumpulkan hadits - hadits Sunnni shahih Klik untuk melihat .

Sebagai berpenduduk Muslim terbesar yang dikenal paling demokratis, Indonesia tengah disibukkan dengan permasalahan mendasar tentang kebhinekaan dan toleransi. Sebuah perdebatan lama yang sebetulnya telah dijawab oleh bangsa ini, bahkan sebelum dilahirkan. Tak ayal pula, sikap ekstrem yang ditampakkan oleh umat Islam tersebut semakin menguatkan pandangan Islamphobia di antara umat lain, sedangkan di sisi lain, komunitas Muslim di seluruh dunia tengah memperbaiki citra Islam untuk lebih manusiawi, berperadaban dan menampilkan wajah Islam yang ramah...

Mayoritas konflik dan kekerasan yang terjadi selalu melibatkan agama yang menjadi sumber legitimasi kekerasan dan menjadikan agama sebagai motif dasar permusuhan dan perpecahan. Padahal sejatinya agama adalah sarana membimbing dan membina manusia untuk lebih dekat dengan Maha Pencipta dan menuntun manusia dalam merangkai kehidupan yang tenang, damai dan bahagia.

Beretorika dan mengatakan bahwa Islam adalah agama damai dan membawa kedamaian tentu tidak sulit, yang tidak mudah adalah membuktikannya secara kongkrit dalam ranah emprik dan panggung sejarah. Menyebut Islam agama ramah, menjamin kebebasan, tidak ada paksaan dalam beragama, mengajarkan penghormatan terhadap kelompok lain juga sangat gampang, semua orang bisa mengucapkannya, bahkan seribu kali sehari.

Tetapi bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa Islam agama toleran, kalau atas nama Islam, sambil mengenakan jubah, sorban dan berkalung tasbih, mereka dengan bernafsu membakar gereja, membubarkan paksa jemaat GKI Yasmin yang sedang melakukan ibadah dan melarang pembangunan gereja dengan alasan meresahkan masyarakat ? Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa Islam agama pembawa damai, mengakui, menghargai dan menghormati kelompok lain, kalau atas nama Islam, sambil mengibarkan bendera tauhid, mereka menyerang, merusak, menghancurkan dan membakar permukiman kaum Ahmadiyah?, Sambil membaca basmalah, mereka membunuh, menyerang, mengkafirkan dan mengusir  penganut  Syiah dari kampung halamannya?

Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa Islam agama ramah yang berprinsip  tidak ada paksaan dalam beragama,  kalau atas nama Islam, mereka dengan marah, sangar, garang dan sadis melakukan bom bunuh diri dan menewaskan sejumlah orang tak berdosa?,  melakukan aksi-aksi kekerasan dan anarkhisme di sejumlah tempat?, merusak dan merobohkan patung simbol agama tertentu?, mengahalalkan darah kelompok lain yang dianggapnya sesat dan menyesatkan hanya karena berbeda faham?. Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa Islam menjamin ketentraman, kalau atas nama Islam mereka membiarkan kebiadaban terjadi dengan kasat mata.

Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa Islam merupakan agama pembawa rahmah bagi sekalian alam (rahmatan lilalamin) yang didalamnya sarat dengan kedamaian, toleransi, harmonisasi, cinta kasih dan persaudaraan, kalau dalam kitab sucinya yang dijadikan pegangan hidup, penuh dengan ajaran dan doktrin yang sebaliknya, sebagaimana fakta berikut :

1. Al-Qur’an melarang kaum muslimin berteman dengan non muslim, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. An-Nisa’ : 144 dan Qs. At-Tawbah : 23.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir (non muslim) sebagai wali (teman, pemimpin, pelindung, penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (Qs. An-Nisa’ :  144).
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (Qs, At Taubah : 23).

2.      Al-Qur’an menganggap non muslim sebagai musuh bagi kaum muslimin, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. An-Nisa’ : 101 “Sesungguhnya orang- orang kafir (non muslim) itu adalah musuh yang nyata bagimu.

3.      Al-Qur’an menganjurkan kaum muslimin agar mencontoh Nabi Muhammad saw yang bersikap keras terhadap non muslim yang disebutnya sebagai kafir, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. Al-Fath:29 “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka”.

4.      Al-Qur’an menganjurkan kaum muslimin agar memerangi non muslim, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. At-Tawbah : 123  dan Qs. Al Anfal : 39.
Hai orang-orang yang beriman, Perangilah orang- orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (Qs. At-Tawbah : 123)
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya allah maha melihat apa yang mereka kerjakan. (Qs. Al-Anfal : 39)

5.      Al-Qur’an menganjurkan kaum muslimin agar membunuh orang yang menggunakan kebebasan memilih agama yang disebutnya murtad, seperti ditegaskan dalam Qs. Al-Nisa : 89 “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong- penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.

Dengan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an seperti diatas sebagai pegangan hidup, masihkah ada orang yang percaya bahwa Islam merupakan agama pembawa rahmah bagi sekalian alam (rahmatan lilalamin). Dengan fakta doktrinal dan empirik seperti dipaparkan diatas, hanya orang keblinger yang mempercayai bahwa misi Islam adalah untuk mewujudkan kedamaian, toleransi, harmonisasi, cinta kasih dan persaudaraan, tulis artikel diatas. Karena itu –masih menurut penulis artikel diatas- tidak salah tatkala Sam Harris (penggiat the Unholy Trinity of Atheism), dalam The End of Faith: Religion: Terror and the Future of Reason mengatakan ; Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama. Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, tetapi karena agama telah menjadi sumber kekerasan pada setiap zaman, dulu, sekarang dan yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pernyataan Romo Magnis bahwa banyak orang menjadi ateis karena kecewa menyaksikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para penganut agama. Mereka melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan. Demikian sebagian isi dari artikel dimaksud.

Meluruskan beberapa kekeliruan
Jika ada yang mengajarkan dan menganjurkan keburukan, kejahatan dan kekacauan dalam segala bentuknya, pasti itu bukan agama, bukan berasal dari agama atau agama hanya diatas namakan, sebab yang namanya agama adalah sumber kebaikan bukan sumber keburukan. Secara substansial, tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan dan menganjurkan keburukan, karena itu setiap bentuk ketidak baikan yang terjadi dalam ranah riil kemanusiaan atas nama agama, dapat dipastikan sebagai prilaku oknum pengikut agama yang salah faham terhadap ajaran agama atau menggunakan faham yang salah dalam memotret agama. Maka munculnya berbagai ketidak puasan terhadap prilaku umat beragama, karena di ranah empirik telah “dianggap” mencederai nilai-nilai luhur kemanusiaan seperti kedamaian, keadilan, penghormatan dan semacamnya sesungguhnya bukan konsederasi yang tepat atau hujjah yang kuat untuk melakukan generalisasi dan menimpakan kesalahan itu pada diri agama.
Salah faham dan faham yang salah terhadap agama, ditambah lagi motif-motif sekuler -misalnya intress politis, ekonomi, rasial, sosial dan pragmatis lainnya- yang dilakukan pemeluk beragama atas nama doktrin agama,  telah menyeret agama pada stigma yang mengenaskan. Bahkan campur aduknya aspek doktrin teologis ajaran agama dengan aspek kultural-historis-sosiologis yang merupakan hasil tafsir manusia atas ajaran agama, sering memperburuk citra agama pada wilayah historis - empiris kemanusiaan.
Dalam banyak kasus, pemeluk agama kerapkali sulit membedakan mana doktrin agama yang bersifat normatif (dilandasi teks-teks suci) dan mana yang tafsir terhadap teks-teks suci (sering dimuati kepentingan politis, kultural, sosiologis dan pragmatis). Tumpang tindih antara konsepsional normatif dengan operasional interpretatif, antara ajaran yang semestinya dengan ajaran yang telah dipraktekkan, pada gilirannya menyeret agama dalam dua wajah; ramah dan marah, vital dan vatal, memberdayakan dan mempedayakan, sumber perdamaian dan sumber pertengkaran. Realitas seperti inilah yang salah satunya mendorong banyak pihak mencari “pendekatan baru” (Arkoun menyebutnya, Rethinking)  guna menemukan ajaran yang semestinya sekaligus mendemarkasinya secara tegas dengan ajaran yang telah dipraktekkan berdasarkan tafsir kepentingan.  Upaya ini urgen dalam rangka membangun paradigma agama yang madani bukan meddeni. Mustinya penulis artikel diatas mampu membedakan diantara keduanya sehingga tidak secara serampangan menimpakan kesalahan “oknum penganut agama” pada diri agama.
Memang secara historis, pembela agama tidak selalu  memfungsikan agamanya secara positif. Dengan mengatasnamakan agama, para pembelanya tidak jarang menodai nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan, dari sini muncul stigma bahwa agama seringkali menimbulkan konflik, permusuhan dan kebencian. Hal ini tidak saja terjadi antar umat beragama, tetapi juga menimpa inter kelompok seagama,  bukan saja dikalangan umat Islam tetapi juga dikalangan umat Yahudi, Kristen, Hindu, Budha dan para penganut agama-agama lain. Semua ini -salah satunya- berawal dari cara pemaknaan teks-teks suci yang literal, harfiyah dan eksetoris sehingga makna substantif, kontekstual dan esoteris dari teks-teks suci tersebut terabaikan.

Tersebut adalah yang menyatakan islam tidak pembawa damai dan bisa membuat kekeliruan untuk umat muslim, Islam sebenarnya mengajarkan kita apa arti kedamaian hal tersebut kembali lagi kepada diri kita sendiri...

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

No comments

Yuk.. Komentar nya yang berhubungan dengan tema atau agama islam